| |
Apa sih yang biasanya dijadikan pertimbangan kantor untuk melakukan outing? Fasilitas outbond? Tempat wisata? Fasilitas team building? atau tempat yang bisa mengakrabkan karyawan kantor sekaligus refreshing? Tapi kepikir gak yah kalau alasan utamanya agar sukses belanja? Waaaaa...... kok rasanya outing kantor selalu berkaitan ama yang namanya tempat belanja. Makanya gak heran kalau tiap habis outing kok kayaknya sukses tidaknya dinilai berdasarkan timbangan bagasi, murah tidaknya barang dipasar atau antusiasme ketika belanja yang ditandai semangat 45 kalau pas belanja tapi molor dibis atau males lihat objek wisatanya? Duhhh....kantor gue banget tapi gak gue banget tuhhh....hehehehehe..... Heran juga tuh, entah kebetulan apa tidak, atau sekedar otak atik gathuk kata orang jawa. Rasanya kata belanja emang alasan utama kenapa outing kantor diadakan. Plus kayaknya insial "B" dari kata Belanja rasanya teramat sakti mempengaruhi nama tempat yang outingnya sukses (baca belanja) versi temen - temen kantor. Makanya outing kantor selama ini gak jauh - jauh dari tempat berinisial B, dari Bogor, Bandung, Bali, Bangkok sampai Beijing. Dan berdasarkan hasil polling gak resmi dari anak - anak kantor tempat - tempat berinisial "B" selalu sukses...hehehehe... Dan heran juga sih, ketika inisial "B" ini dilanggar, hasilnya pada manyun waktu outing diKorea dimana Seoul sebagai tempatnya, maklum apa - apa mahal disana. coba waktu itu milih Busan lain hasilnya kali...hehehehe... Tapi kenapa outing keVietnam, tepatnya Saigon atau Ho Chi Minh dianggap sukses oleh anak - anak yah, padahal gak ada inisial "B" disitu? Selidik punya selidik rupanya belanjanya pada sukses di Benh Tanh market :D. Waaa...kalau dilihat trend ini kayaknya ada harapan suatu saat nanti bakalan outing ke Buenos Airies, Brazil, British ataupun Big Apple sekalian...hehehehe.... Asal gak keBangladesh atau Baghdad aja sih... kalau itu mah hasilnya inisial "B" lainnya alias Berabe..!!
Seven days in Tibet, Seven Flight and Seventeen Days of Tibet Journey Kalau ada pertanyaan trip mana yang paling berkesan seumur hidup, tanpa ragu pasti akan aku jawab Trip keTibet. Ada banyak hal yang mendasari kenapa jawabannya seperti itu, berikut 7 alasan yang mendasarinya. 1. Trip Paling Lama. Baru kali ini bisa merasakan Trip paling lama seumur hidup. Maklum bisa cuti dua minggu dengan total waktu 17 hari rasanya merupakan sebuah keajaiban buat pekerja kantoran macam saya. Bukan jumlah cutinya, tapi kesempatannya yang sangat jarang karena load kerjaan. Thanks God, ternyata semuanya mendukung rencana jalan - jalan lama. Pas pengen jalan, pas kerjaan lagi dititik terendah. Demikian juga 7 hari diTibet merupakan trip terlama berdiam disatu kota. 2. Trip Paling Sulit, Ruwet dan Membingungkan. Persiapan 6 bulan rasanya tidak terlalu berguna banyak mengingat sampai hari terakhir menjelang berangkat rute, transportasi dan Tibet Permit masih samar bahkan bisa dibilang gelap. Dari berbagai usaha mencari informasi pengurusan Tibet permit selalu runyam, apalagi ditambah informasi kalau Tibet permit sempat ditutup sehubungan adanya demo wisatawan asing diTibet beberapa bulan Lalu. begitupun usaha informasi kereta dan pesawat diChina plus cara bookingnya, semuanya gelap gulita. Belum lagi untuk trip diluar kota Lhasa juga harus pakai permit tambahan. Benar kata guide disana "Your problem is not (only) money but permit" Alhasil semuanya Go show, entah via Chengdu atau Xian plus plan B muter jadi China trip kalau gagal masuk Tibet. 3. Melihat yang serba terbesar, tertua, tertinggi dan terjorok diChina dan didunia Kurang apalagi coba bisa merasakan pengalaman melihat yang terbesar, tertua, tertinggi dan terjorok diChina bahkan didunia. Untuk kategori terbesar, Giant Panda dan Grand Buddha adalah jawabannya. Giant Panda sebagai Panda terbesar didunia sekaligus logo WWF, sementara Grand Buddha adalah Patung Buddha terbesar didunia, dengan panjang lebih 200 meter untuk patung Buddha tidur dan tinggi 71 meter untuk patung Buddha duduk. Untuk Kategori tertua, setidaknya diChina diwakili oleh dinasty Qin (220 BC) beserta semua peninggalannya : Teracotta Wariors, Qin Shi Huang Tomb adalah warisan dari dinasty tertua yang bisa menyatukan China. Kalau nggak salah sejarahnya difilmkan dalam film the Heronya Jet Lee. Untuk urusan tertinggi didunia yang ada catatan resminya adalah Nam Tso Lake sebagai danau tertinggi didunia - 4718 mdpl. Sedangkan yang tidak ada catatan resminya adalah kota Lhasa rasanya merupakan kota tertinggi didunia dengan ketinggian 3900 mdpl. Berikutnya bandara Lhasa dan Stasiun kereta otomatis yang tertinggi dikategorinya. Selanjutnya Potala Palace sebagai istana tertinggi didunia dengan 4015 mdpl. Masjid diMuslim quarter dan Drepung Monastery diTibet sebagai masjid dan Tempel tertinggi didunia. Dan mungkin masih banyak hal yang tertinggi diTibet lainnya. Untuk urusan terjorok didunia rasanya Tibetlah tempatnya. Tidak peduli itu dijalur keNam Tso Lake yang penuh air bersih maupun diPotala yang rasanya susah air bersih, WC umum diTibet rasanya sangat tidak manusiawi sama sekali. Banyangkan dari jarak 50 - 100 meter aromanya sudah tercium, apalagi ditengah teriknya matahari makin menyengatlah baunya. Jadi kalau pengen tahu letak WC umum diTibet jangan cari tanda signnya, tapi kenali dengan hidung anda dengan baunya. Satu lagi, kalau mau latihan Snorkling tanpa takut tenggelam - melatih bernafas dengan mulut - Tibetlah tempat yang recommended untuk dicoba. 4. Pertama Kali Terbang diatas pegunungan Himalaya dan puncak mount Everest. Kalau ingin mencoba suasana flight yang lain daripada yang lain. Flight layaknya pasar kaget, flight dimana tingkah penumpangnya seperti anak kecil semua tidak pandang bulu usia, jenis kelamin, negara, suku dan agama dan Pendaratan yang disertai tepuk tangan bangga dan senangnya penumpang cobalah untuk flight jalur Chengdu - Lhasa. Dijamin pengalaman serupa bisa kita dapatkan. Bagaimana tidak, terbang diatas pegunungan dan gunung tertinggi didunia dan pengalaman mendarat dibandara tertinggi didunia dan Tibet tentunya akan menjadi pengalaman berharga. Entah dimana lagi bisa mencari suasana flight yang sepadan dengan Flight Chengdu - Lhasa. 5. Pertama kali mencoba kereta paling Ekstrim didunia Paling Ekstrim, kereta jalur Lhasa - Xian adalah jawabannya, karena kereta jalur Lhasa - Xian adalah satu - satunya kereta yang ada suplay oksigennya plus yang melewati jalur paling ekstrim didunia dari ketinggian kurang dari 1000 mdpl diXian hingga diatas 5000 mdpl diantara Xining - Lhasa. Selain itu nilai keekstriman jalur ini ditambah melewati padang savana seluas ribuan bahkan jutaan hektar dengan background gunung - gunung tandus yang sebagian besar bersalju bahkan dimusim panas sekalipun. Melihat ribuan bahkan jutaan Yak - Sapi khas Tibet - Domba dan kambing gunung selama perjalanan, bahkan kalau beruntung bisa melihat rusa kutub dan serigala salju seperti kemarin. Selain itu pengalaman naik kereta selama 35 jam adalah naik kereta terlama seumur hidup. 6. Trip dengan jumlah Flight terbanyak Biasanya untuk satu Trip paling banyak hanya 4 - 5 kali Flight, trip kali ini terpaksa memilih menggunakan 7 kali Flight. Bukan karena angka sih yang mendasari angka serba 7 tapi karena alasan untuk mempersingkat waktu. Maklum naik kereta diChina untuk antar kotanya minimal 24 jam, sementara dengan Flight hanya 2 jam jadi lumayan saving time untuk city tour atau keperluan lain. Alhasil hanya rute Lhasa - Xian yang memakai kereta sementara rute lainnya memakai flight semua yaitu rute Jakarta - Batam pp, Singapura - Shenzhen pp, Shenzen Chengdu, Chengdu - Lhasa dan Xian - Shenzhen. 7. Trip Paling Mahal Konsekuensi mengganti kereta dengan Flight tentunya berimbas pada budget. Maklum lokal flight diChina tergolong amat sangat mahal dan tidak ada budget flight diChina. Yah walaupun akhirnya harus over budget rasanya sepadan dengan trip yang didapat maklum dengan 17 hari rasanya sangat jauh dari cukup untuk menuntaskan hanya tiga kota diChina tersebut. Sementara kalau harus bela-belain naik kereta akan banyak terbuang waktu dan tentunya akan lebih mahal melakukan trip ulangan. Pengorbanan waktu, uang dan stamina rasanya sangat sepadan pengalaman yang didapat. Sayang tidak bisa trip ke Everest Base Camp (EBC) dan Nepal Border karena perlu waktu, uang dan kondisi fisik yang berlebih, kalau bisa niscaya trip akan menjadi sempurnya. Apalagi Trip diTibet itu sistemnya borongan, bukan perorangan jadi yah ditanggung mahalnya. Tapi paling tidak dengan gagal keEBC berarti rute Nepal - EBC - Tibet menjadi on the list untuk next journey. Jadi selama ada waktu selalu ada asa untuk kesana. Catper lengkap dan foto - foto menyusul. Chengdu - Tibet - Xian, 1 - 17 Juni 2007
Dari Dinginnya Dieng menuju Panasnya Karimun Jawa Awalnya sempat bingung long weekend 4 hari mau kemana. Rencana ikutan keBangka Belitung gagal karena miskom, kirain dah kehabisan tiket pesawat ternyata masih ada...hehehehe... Renacana keSawarna yang sudah diset jauh - jauh haripun gagal lantaran pesertanya pada berguguran semua akibat harus masuk diharpitnas. Heran pada cinta banger ama kantor dan kerjaan sih, sampai - sampai long weekend aja malah closing dan training. Hmmm...mana semangat mars PMRnya..??!! Masak libur 4 hari mau diJakarta doang, padahal weekend biasa saja rasanya pengen ngabur dari Jakarta. Memang kalau dah niat selalu ada jalan. Eh tiba - tiba ada yang ngajakin ngtrip luar kota. Lihat itenerarynya sih ambisius banget : Dieng dan Karimun Jawa, malah kalau sempat mau pakai acara rafting diSerayu segala. Oalah apa nanti gak jadi trip numpang lewat saja yah KeDieng via jalur Selatan Gak tahu kenapa kok ya selalu dapat teman jalan yang doyan nyasar - nyasar mulu. Mestinya kalau dari Jakarta keDiengkan lewat jalur pantura, lha kok ada - ada saja rencana kesana via jalur selatan agar gak sering berpapasan ama bis malam dan kontainer yang merajai jalur pantura. Namanya juga ngikut dan lagian belum pernah via jalaur selatan yah hayoo sajalah, kan yang penting semboyan "Biar nyasar yang penting Happy" selalu berlaku. Benar juga sih jalur selatan lebih sepi dan lancar, apalagi malam hari gini. Tapi pantesan pada milih via pantura lha via selatan selain lebih jauh jalannya juga berliku - liku. Lumayan untuk membuat sedikit mual dan pusing kepala. Alhasil perjalanan Dieng yang via pantura sekitar 10 jam jadi 12 jam via jalur selatan. Tapi lumayan sih kalau lewat jalur selatan dari arah Purwokerto - Banjarnegara akan melewati pom Bensin yang memelihara ikan yang ukurannya segede orang dewasa (lupa sih namanya, tapi merupakan ikan air tawar asal suangai Amazon). Karena sampai Banjarnegara sudah keburu siang, rencana rafting Serayupun terpaksa dibatalkan dan hanya minta brosur saja serta langsung melanjutkan perjalanan menuju Dieng. Sayang karena sudah sore dan cuaca mendung akhirnya hanya dapat sedikit explore kawasan candi Dieng saat itu. Esok paginya ditengah udara dingin yang menusuk tulang tetap nekat mengejar sunrise diSikunir. Ternyata pengorbanan itu tidak sia - sia karena bisa melihat sunrise dengan latar belakang gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi dan mungkin juga gunung Slamet dan Lawu. Lebih puas lagi ternyata pagi hari sampai siangnya suasananya cerah ceria sehingga bisa maksimal explore Diengnya. Nyasar dan Nyasar Lagi Siang hari setelah explore Dieng langsung melanjutkan perjalanan menuju Semarang agar keesokan harinya bisa nyebrang keKarimun Jawa. Tapi gak tahu kenapa kok kesana juga pakai nyasar - nyasar juga. Rencana awalnya sih mau lewat rute Temanggung - Secang - Ambawara - Semarang sekalian mau nyobain srabi panas yang banyak terdapat dijalanan rute Magelang - Semarang diAmbarawa, eh lha kok malah nyasar via jalur alternatif rute Parakan - Sumowono - Bandungan - Semarang gara - gara mengikuti penunjuk jalan yang menyesatkan. Awalnya asik juga lewat jalur alternatif tersebut, tapi lumayan juga waktu terjebak tebalnya kabut sore hari diSumowono. Praktis jarak pandang paling gak sampai 10 meter dan tentunya harus lebih extra waspada karena jalurnya yang berkelok - kelok. Tapi asik juga sih lewat rute tersebut, apalagi rencana kuliner makan Srabi yang gagal tergantikan kuliner makan jadah goreng, tahu Serasi, sate Kelinci dan susu Kedelai diBandungan. Rencana kuliner satu makanan malah tergantikan 4 makanan sekaligus. Sampai Semarangpun tak lupa menyempatkan mencicipi Tahu Gimbal khas Semarang. Naik Kartini keKarimun Jawa Karena pertimbangan waktu dan pengen nyaman keKarimun akhirnya memutuskan naik kapal Kartini dari Tanjungmas. Beruntung hari itu kapalnya lagi sepi jadi bisa tidur selonjoran dikapal, maklum 4 bangku untuk sendiri. Sampai Karimun karena sudah cukup siang akhirnya memutuskan leyeh – leyeh sambil menunggu sunset didermaga wisata. Memang indah kalau bisa melihat sunset ditepi pantai apalagi dengan background kapal nelayan yang pulang melaut disuasana sore yang cerah. Wah kombinasi yang sempurna. Baru keesokan harinya explore Karimun Jawa dengan menyewa perahu nelayan. Karena terbatasnya waktu dan harus balik Semarang siang harinya, akhirnya hanya singah sebentar dipulau Cemara besar, pantai Tanjung Gelam, dan menghabiskan waktu bersantai dan mandi laut dipulau Menjangan Kecil. Kurang puas sih, tapi mau bagaimana lagi karena sudah harus balik keJakarta. Yah nanti lain kali bisa lebih lama keKarimun lagi. Tiga hari bermalam diPantura Sore harinya, begitu mendarat diSemarang langsung melanjutkan perjalanan keJakarta. Karena tujuannya sekalian kuliner jadi ya sekalian menyempatkan diri mencicipi sate Blengong khas Brebes dialun – alun Brebes yang dibangga – banggakan maknya ngapak – ngapak itu. Tapi iya sih rasanya memang cukup enak, apalagi kalau tahu tempat yang lebih enak lagi. Nyampe Jakartapun sudah Senin pagi, setelah rehat sebentar terpaksa ngantor lagi. Habis deadline sudah menunggu padahal badan masih capek dan mengantuk. Coba kalau nggak ingat kerjaan, rasanya mau ngabur tidur siang saja dikantor..:D. Ups, siang harinya mendapat berita yang mengaharuskan pulang lagi keSemarang. Terpaksa deh minta ijin sehari balik keSemarang karena nggak bisa lama – lama ninggalin kerjaan. Alhasil Minggu – Selasa malam dihabiskan dengan bermalam diatas kendaraan diPantura. Capek sih pasti 3 malam bolak balik gitu, tapi lumayanlah coz siangnya sempat istirahat sebentar dan rasanya jauh lebih capek naik bis 24 jam antara Saigon – Hoi An diVietnam. Sampai – sampai badan mati rasa dan pantat jadi panas banget kelamaan duduk. Yah maklumlah naik bis berjarak hampir Jakarta – Surabaya pp hanya bertarif USD 14. Summary : Hostel Dieng/Wonosobo : Rp. 40.000 – 100.000 Kapal Kartini : Rp. 108.000 one way Hostel Karimun : Rp. 70.000 – 100.000 Sewa Kapal : Rp. 200.000 / Day (Pulau Cemara Besar, Tanjung Gelam, Menjangan Besar dan Kecil)
Singapura - Malaka - Kuala Lumpur, 27 - 29 April 2007
Entah sudah berapa kali punya rencana mengunjungi Malaka, tapi kok ya susah banget merelealisasikannya, padahal sudah beberapa kali transit diSingapura maupun KL. Ada - ada saja sebabnya, dari sakit diSingapuralah, salah bikin itenerary dan booking pesawatlah, sampai gara - gara lupa bablas terus keJakarta. Niatnya memang keMalaka sekedar extend saja suatu saat kalau keSing atau KL, lha kalau diniatin trip kesana kok kayaknya belum kepikiran alokasi budgetnya, maklum prioritas ketempat lain secara permodalan terbatas.
Akhirnya kesempatan itu datang juga, walaupun nyaris gagal juga. Maklum masih ragu - ragu juga kalau harus ngetrip sendiri lagi dinegeri orang gini, maklum bete rasanya gak ada teman jalan dan ngobrol dinegeri orang, palagi teman yang diharapkan bisa disusul ternyata malah dah balik keJakarta duluan. Tapi setelah mikir - mikir, sayang rasanya punya waktu 2 hari gak jadi keMalaka, padahal posisi dah diSingapura gini.
Jum'at siang sehabis cek out dari star cruise, perjalanan keMalaka dimulai dengan iringan hujan lebat menuju Kalang bahru terminal untuk mencari bus keMalaka. Agak susah juga mencari terminal Kalang Bahru, karena sebelumnya tidak tahu kalau itu nama terminal bis tujuan Singapura - Malaysia. Sampai diterminal terpaksa nunggu 1 jam keberangkatan karena bis jam 3 sudah berangkat. Tepat jam 4 sore, bis meninggalkan Singapura sesuai jadwal. Perjalanan Singapura - Malaka selama sekitar 5 jam (termasuk imigrasi Singapura dan Malaysia serta istirahat makan diAyer Hitam, Johor Baru).
Perjalanan selama 5 jam terasa sangat membosankan karena sepanjang perjalanan terasa sangat monoton. View Singapura - Malaka (dan rasanya juga nyaris sama kalau keKL) didominasi areal perkebunan kelapa sawit. Untungnya perjalanan terasa nyaman dan lancar karena selain bisnya nyaman, sepanjang perjalananpun jalannya mulus plus proses imigrasi yang mudah dan lancar.
Sekitar jam 9 malam waktu Malaysia akhirnya nyampe juga diterminal Malaka Sentral. Karena sudah malam dan capek, dari sana langsung naik Town Bus kearah penginapan didaerah Bukit China. Hmm...malam pertama diMalaka disambut hujan yang sedemikian derasnya. Yah mudah - mudahan hujannya bakalan habis malam ini sehingga besok pagi bisa city tour dengan cuaca yang cerah ceria.
Kota Malaka rasanya tidak terlalu luas dan objek wisatanyapun terletak hampir terpusat sehingga relatif mudah city tour dengan jalan kaki. Kalau tidak mau capek bisa saja naik becak wisata hias dengan tarif RM. 10 perjam. Tapi walaupun terpusat, rasanya tidak mungkin satu hari, bahkan bagi pecinta kota tua, musium, sejarah dan fotografi arsitektur mungkin butuh waktu seminggu untuk mengekplorasi Malaka secara maksimal.
Walaupun mayoritas objek wisata diMalaka adalah objek sejarah peninggalan Portugis yang didominasi bangunan warna merah, tapi aroma budaya Melayu, Belanda dan Inggris sebagai bangsa yang pernah eksis disana begitu besar sehingga banyak terjadi alkulturasi dalam semua aspek disana. Mungkin hanya sentuhan Jepang saja yang tidak begitu terasa, maklum seperti halnya diIndonesia, Jepang hanya menjajah selama 3,5 tahun diMalaka.
Membandingkan kota tua Malaka dengan kota tua Jakarta sebenarnya tidak jauh berbeda, apalagi aroma Belanda juga ada dikeduanya. Hanya saja rasanya kota tua Malaka lebih terawat dibanding Jakarta dan telah menjadi objek wisata utama diMalaka. Padahal kalau ditata seperti diMalaka rasanya Jakartapun tidak kalah menariknya dibanding Malaka. Dan seperti kata teman, waktu 2 hari itu sangat jauh dari kata mencukupi untuk mengekplorasi Malaka. Yah paling tidak sudah sempat mengunjungi Malaka.
Oh iya, terminal bis Malaka Sentral sepertinya tipe terminal ideal. Selain bersih dan nyaman disana terdapat fasilitas publik yang pasti sangat membantu traveller dari Information center, money changer dan informasi hotel beserta fasilitas free call untuk menghubungi hotel yang banyak tersedia brosurnya disana. Selain itu ditunjang fasilitas kios2 perbelanjaan seperti model ITC, sehingga bisa obat bosan menunggu bis berangkat.
Summary :
Sing - Malaka : 5 jam by bus - SGD 16 by Sing - Malaka Express bus, dari Kalang Bahru terminal (MRT Lavender station Exit Lavender st, jalan 300 m). Tapi kalau ambil rute Malaka - Sing tarifnya hanya RM 16 atau setengahnya (bingung kenapa bisa begini). Malaka juga bisa diakses langsung dari Dumai - Riau by Ferry.
Malaka Central - Bukit China : RM 1 by town bus no. 17 turun diPublic Bank (samping St. Xavier Church).
Penginapan : Eastern Heritage - Jl. Bukit China no. 8 : RM 17/night - private room - basic condition.
City Tour : Selain jalan kaki bisa naik becak RM. 10/jam.
Malaka - Kuala Lumpur (KL) : 2 jam by bus - RM 9.40
Terminal Puduraya (KL) - KL Sentral : 1/2 jam by Metro Bis no. B 105 - RM 2 / hari. Nunggunya dari halte seberang Mall Kota Raya, keluar pintu samping Puduraya.
KL Sentral - KLCC : 1 1/2 jam by Air Asia Sky bus - RM 9.
KL - Jakarta : By Air Asia - RM. 235
Objek Wisata :
Didominasi peninggalan sejarah, musium dan kota tua. Komplek objek wisata utama terletak didekat Stadhuys dengan ciri khas komplek bangunan bercat merah, China Town, Old Town Centre, Historical area, sekitar jalan Hang Jebat (seberang sungai Malaka dari Stadhuys) dan muara sungai Malaka.
Sekali - kali posting hal yang tidak ada kaitannya dengan travelling ah, yah walaupun salah satu esensinya masih sama dengan tujuan travelling yaitu mengetahui daerah lain. Kalau biasanya mengenal daerah dengan mengunjunginya, kali ini pengen mengenal daerah (terutama orangnya sih...) melalui profesinya.
Iseng - iseng saja sih. Awalnya nggak menyangka kalau profesi orang itu bisa menggambarkan dari daerah mana dia berasal. Dulu mengira kalau hal itu hanya kebetulan saja, ternyata emang ada polanya. Minimal untuk kota atau daerah tertentu. Walaupun tidak bisa digeneralisir sepenuhnya tapi kalau ketemu profesi tertentu bisa langsung tahu daerah asalnya.
Solo dan sekitarnya : Coba tanya daerah asalnya keabang tukang bakso (bukan bakso Malang), penjual Mie Ayam ama mbok Jamu. Yakin dah mayoritas dari mereka berasal dari Solo dan sekitarnya.
Garut : Gampang kok nglacaknya, kalau punya langganan tukang potong rambut dibarber shop permanen (bukan salon) coba aja tanya daerah asalnya kemas atau bapak yang cukur. Pasti dah dia bakal ngaku kalau dari Garut.
Tasikmalaya : Sekali - kali coba jadi pasien mamang tukang kredit keliling. Kredit apaan aja juga jadi, mo panci kek, gayung mandi ampe kadang barang elektronik juga ada. Biar kenal ama orang Tasikmalaya.
Kuningan : Ini juga gampang nemunya kok. Cukup beli aja Nasi goreng tek - tek atau pesen Indomie Telor diwarung Indomie sebelah rumah.
Batak : Kayaknya semua orang tahu yah. Coba aja main keterminal pasti ketemu kok. Atau kalau lagi punya problem hukum juga gampang nyarinya.
Padang : Kalau yang ini sih coba aja makan direstoran Sederhana Padang. Alternatif lain siapa tahu ketemu dilapak2 habis sholat Jum'at dimesjid samping kantor.
Tegal : Paling gampang ya kewarteg alias warung Tegal. Tapi kalau pengen ketemu bapak - bapaknya coba deh cobain naik bajaj. Pasti ketemu kok.
Mungkin masih ada cara nglacak daerah lain berdasarkan profesi orang - orangnya. Kalau ada yang nggak cocok atau sedikit nyleneh mungkin itu hanya sebuah anomali. Trus kalau kamu, apa profesi dan daerah asalmu? Nyambung nggak yah?
Kata orang pulau Lombok itu indah banget. Bahkan katanya lebih indah dari pulau Bali, yah walaupun belum termanage dengan baik layaknya Bali. Karena itulah jauh - jauh hari waktu ada promo Air Asia Jakarta - Bali pp hanya Rp. 361 ribu gak pakai pikir panjang langsung saja terbooking, padahal itu sudah lebih dari setengah tahun yang lalu. Walau awalnya ragu juga karena bulan Maret rawan tabrakan dengan outing kantor.
Ajakan teman untuk trip keDanau toba dan sekitarnyapun sengaja ditolak demi mengunjungi pulau Lombok untuk pertama kali. Awalnya sempat berbesar hati karena ada beberapa orang kantor yang dapat Trip keShanghai - Beijing tanggal 16 - 19 Maret 2007. Hmm...aman...karena mikirnya nggak bakalan outing kantor akan dibarengkan dengan trip itu.
Tapi ternyata, kalau memang belum rejeki ya yang terjadi pasti terjadilah. Apa yang dikawatirkan ternyata kejadian juga, outing kantor akhirnya berbarengan dengan rencana keLombok. Yah terpaksa harus mengorbankan salah satunya deh dan Lombokpun harus terdelete dari list trip tahun ini.
Yah mudah - mudahan masih ada kesempatan lain untuk keLombok lagi. Buat team Bali - Lombok, ma'af banget yah terpaksa batal. Yah bagaimana lagi godaan outing kantor rasanya memang susah untuk ditolak. Walaupun sekarang rada was - was juga, jangan - jangan disana nanti gak kuat dingin kayak waktu diShanghai 2 tahun yang lalu. Yah...rencana 1/2 tahun yang lalupun akhirnya gagal juga.
Have Nice Trip ya Guys.....
Bali, 15 - 17 Desember 2006
Outing lagi? KeBali lagi? ups, terbayang rada sakit perut dah kalau perginya atas nama outing kantor. Gimana gak sakit perut tuh, yang namanya outing kantor tuh pasti budget gede, tapi kok kayaknya amat disayangkan dapatnya cuman segitu doang. Coba kalau dikasih mentah, plus ijin cuti tentunya (ngarep) dengan budget segitu paling tidak dah sampai Lombok, malah sampai Komodo kali. Selaku penikmat kuantitas perjalanan (makin banyak yang dilihat dan dirasakan makin seneng) daripada penikmat kualitas perjalanan ( makin oke fasilitas makin sipp, walaupun cuman nyampe pulau Bidadari doang :D), kan gak perlu nginep dihotel bernintang, gak perlu naik bis AC, gak perlu makan diBebek Bengil...dan gak perlu...gak perlu lainnya… :D
Palagi kalau perginya ama kantor, keBali pula yang ada orientasi utamanya kalau nggak shopping ya café to café mulu, gak ikut rugi karena gratis dapat uang saku pula, kalau ikut kok ya bisa nggak sih ketempat lain…hehehehe…. Coba dikasih mentahnya aja deh, pasti lebih berguna buat jalan – jalannya.
Yah, walaupun begitu tetap harus bersyukurlah, dapat kantor yang sering ngadain outing. Paling tidak inikan dah outing ke 4 kantor, belum tentu dikantor lain bakalan dapat. Berhubung sesuai itenerary hanya Dreamland yang belum pernah dikunjungi, yah hanya kesitulah semangat yang tersisa. Lainnya lebih pengen nyantai dihotel dan ikutan jadi penggembira sajalah, sambil ngliatin yang pada shopping pe tepar gitu :D
Gak papalah, yang penting tetap jalan – jalan... :D
Kalimatan Timur, 24 – 26 November 2006
Akhirnya bisa juga menginjakkan kaki kebumi Borneo untuk pertama kali. Walaupun ceritanya dalam rangka kerjaan kayaknya kurang komplit kalau tidak memanfaatkan sisa waktu buat jalan – jalan. Berhubung dari berbagai info Balikpapan tidak terlalu menarik untuk dieksplore, akhirnya memutuskan untuk mengunjungi kota Tenggarong, ibukota Kutai Kertanegara, kurang lebih 3 jam jalan darat dari Balikpapan. Kalau dilihat fisik kotanya sih rasanya tidak terbayangkan kalau dulu Kutai pernah mengalami masa kejayaan, bahkan mencatatkan diri sebagai kerajaan besar tertua ditanah air. Jauh mendahului keberadaan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai ikon kerajaan multinasional dan terbesar diNusantara.
Balikpapan
Panas, tandus dan gersang itulah kesan pertama memasuki kota Balikpapan. Maklum selain sebagai kota minyak, Kalimantan merupakan jantung katulistiwa bumi ini. Ditambah lagi banyaknya bangunan penduduk yang terbuat dari kayu, rasanya menambah kesan kurang nyaman tinggal dikota ini. Berhubung keperluan pekerjaan memang diBalikpapan ya terpaksa tinggal seharí disini, tanpa tahu kemana mengisi waktu luang.
Berbekal buku panduan LP, akhirnya memutuskan mengisi satu hari perjalanan kekota Tenggarong saja, itupun setelah memilih – milih tujuan yang mungkin dieksplore dalam 1 ½ hari perjalanan. Tujuan utamanya sih ingin mengunjungi kompleks bersejarah disana, yaitu Museum Mulawarman, Kedaton Kraton Kutai Kertanegara beserta masjid Agungnya.
Samarinda
Tengah hari setelah seminar selesai, langsung saja menuju Tenggarong via Samarinda. Dari Hotel langsung menuju terminal Batu Ampar untuk naik bis keSamarinda. Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda berkisar sekitar 2 ½ jam dengan melalui bukit Suharto. Sepanjang perjalanan melewati bukit Suharto tampak tempat yang kondisinya sangat bervariasi. Sebagian melewati hutan yang cukup lebat dan sejuk, sementara bagian lainnya terasa sangat gersang dan tandus.
Sore hari akhirnya sampai juga diSamarinda, karena memang tidak ada rencana menginap diSamarinda, akhirnya tidak turun diterminal, tetapi turun dipertigaan Samarinda – Balikpapan – Tenggarong, didaerah Samarinda seberang. Karena letaknya yang diseberang sungai Mahakam dari Samarinda maka daerah inipun kemudian dinamakan Samarinda seberang, artinya Samarinda diseberang sungai Mahakam.
Melihat Samarinda seberang, rasanya memang menggambarkan kondisi Kalimantan pada umumnya. Bangunan – bangunan disana didominasi rumah kayu berbentuk panggung, apalagi bangunan yang berada ditepi sungai Mahakam, wuih...kok kayaknya tidak jauh beda dengan pedalaman Kalimantan ya. Perjalanan dari Samarinda menuju Tenggarong menghadirkan susana yang berbeda. Jika dari Balikpapan menuju Samarinda adalah perjalanan membelah bukit, maka perjalanan dari Samarinda menuju Tenggarong adalah menyusuri tepian sungai Mahakam. Ada baiknya melakukan perjalanan disore hari, apalagi ketika hari cerah, wuih...kita akan disuguhi keindahan pemandangan disekitar sungai Mahakam yang berwarna keemasan diterpa matahari senjahari. Ditambah lagi Sunset dengan backgroung sungai Mahakam, indahnya perjalanan sore itu.
Semalam ditepian Mahakam
Sampai Tenggarong hari telah mulai malam...kok kayak lagu ya... Berhubung susah mencari angkot menuju kota, ya sudah akhirnya memutuskan naik ojek saja menuju penginapan. Sayangnya lupa kalau saat itu bertepatan dengan pekan Olahraga seKaltim, jadilah semua penginapan disana fully booked. Ups...gimana nih mau menginap dimana, sempet bingung juga karena sudah malam, sementara sudah tidak ada angkot balik keSamarinda dah gitu sendirian pula.
Berhubung bingung mau nginep dimana, sempat mikir numpang tidur saja diMasjid atau kantor polisi saja. Sambil jalan nyari tempat tidur darurat, akhirnya ketemu tenda terbuka panitia Porprop Kaltim lengkap dengan deretan kursi lipatnya. Ya sudah berhubung badan capek dan adanya cuman tempat itu, tidur dideretan kursipun tak apalah.. Benar – benar jadi pengalaman berharga seumur hidup deh, Semalam ditepian Mahakam dalam arti sebernya.
Tenggarong
Habis sholat subuh, rasanya asik juga jalan – jalan menunggu sun rise ditepian Mahakam. Komplit sudah, bisa menikmati sun rise dan sun set dengan latar belakang sungai Mahakam. Nggak nyesel deh walaupun dibela – belain tidur seadanya. Sambil menunggu jam buka Museum, iseng – iseng jalan – jalan mengelilingi komplek kedaton kraton Kutai Kertanegara dan melihat komplek makam raja – raja kerajaan Kutai Kertanegara. Dibandingkan makam – makam raja Mataram kompleknya relatif lebih kecil dan sederhana, apalagi dibanding komplek makam raja – raja Vietnam dan China, wah sungguh jauh bedanya. Disudut komplek Makam terdapat makam Sultan Kukar ke XV yang merupakan pendiri kota Tenggarong.
Jam ½ 10 akhirnya museum Mulawarman dibuka juga. Dengan semangat langsung saja masuk ingin melihat koleksi museum tersebut. Untung juga ternyata boleh memotret didalam museum Mulawarman. Didalam museum kita dapat melihat koleksi peninggalan kerajaaan Kukar maupun beberapa kerajaan lainnya, baik pakaian, senjata, bahkan sampai tempat tidur raja pun ada.
Hal yang paling menarik adalah bisa melihat secara langsung prasasti Mulawarman sebagai bukti adanya kerajaan tertua diIndonesia. Dilihat dari fisiknya sih, cuman sebongkah batu bertuliskan huruf pallawa berbahasa sanskerta. Tapi dilihat dari sejarahnya, wah puas juga bisa tahu bentuk prasasti sebenarnya setelah dulu hanya tahu dari buku sejarah diSMA. Selain itu, baru tahu juga kalau ternyata motif tenunan Samarinda itu beraneka ragam coraknya, walaupun tidak begitu faham filosofi motifnya tetap saja menarik untuk diketahui.
Dilantai bawah museum tersimpan koleksi keramik. Entahlah, seperti halnya museum – museum lainnya, suasananya terkesan seram apalagi waktu itu hanya sendirian yang mengunjungi lantai bawah tersebut. Padahal pengennya sih melihat lebih detail lagi koleksi keramiknya, tapi kok ya serem amat tempatnya :D... Koleksi keramik sendiri banyak yang telah berumur ratusan tahun, dan sebagian besar berasal dari Cina dari jaman dinasti Ming.
Walaupun cuman sehari, rasanya cukup berharga untuk menambah pengetahuan. Pengennya suatu saat bisa balik kesini lagi, ingin menyaksikan Festival Erau yang masih membuat penasaran.
Summary
Bandara – Kota Balikpapan : Angkot no. 7 keterminal Damai – Rp. 3000
(baru nyambung lagi).
Balikpapan – Samarinda : by bus – 2 ½ jam, Rp. 19.000 dari terminal
Batu Ampar
Samarinda – Tenggarong : by Angkot – 1 ½ jam, Rp. 10.000
Angkot Kota Tenggarong : Rp. 3.000 – 5.000 (Jarang – jarang
angkotnya)
Ojeg : Rp. 5.000 – 10.000, tergantung jarak dan
waktu (malam/siang)
Medan, 9 – 11 September 2006
Ups, kenapa tiba – tiba jadi sok heroik gini yah. Maklum kunjungan keMedan kali ini merupakan rangkaian terakhir supervisi event. Even terakhir untuk rangkaian road show lomba mewarnai, juga merupakan event terakhir sebelum rehat puasa. Apalagi kali ini dari klien yang datang langsung sang bos yang terkenal ribet dan penuh tuntutan, jadilah the final battle.
Gathotkaca, dimanakah kau berada..??!!
Namanya juga abidin, jadi Aji mumpunglah booking tiket Garuda pp. Begitu liat harganya nyesek juga kena tiket Jakarta – Medan pp Rp 2,8 jt. Pyuh…coba dikasih mentah, pasti lebih berguna. Ya gak papalah, memanjakan diri sebelum didera – dera kerjaan. Tapi ternyata naik Garuda kok ya sama aja dengan pesawat lainnya, delay lagi…delay lagi. Oalah padahal dah dibelain dari subuh berangkat kebandara, kok ya akhirnya kecewa juga. Coba ada mas Gathotkaca, mungkin gak perlu delay kali ya coz diakan gak ada yang namanya kendala teknis.
Ambisi orang tua vs polosnya anak – anak
Namanya juga orang tua, dimana – mana pasti ngebet pengen punya anak yang berprestasi, entah bagaimana caranya yang kadang terlalu dipaksakan pada anak dan membuat kita tersenyum ketika melihatnya. Begitulah yang terjadi diarena lomba, terlihat banyak orang tua, terutama ibu yang terlihat sibuk memberikan instruksi kepada anaknya. Padahal sudah jelas intruksi is prohibited J, jadi boro – boro menang, yang ada malah anaknya kena diskualifikasi dari lomba.
Namanya juga anak – anak, yang ada dikepala mereka ya bermain – main dan bertindak semaunya, maklum dunia mereka adalah dunia permainan. Jadi ya nggak heran kalau nggak nyambung akhirnya. Orang tua memberikan instrusksi malah dicuekin oleh anaknya. Mungkin benar juga ungkapan “Anjing menggonggong, kafilah berlalu” dibenak anak – anak peserta lomba. Maklum mereka masih balita. Apalagi waktu pengumuman pemenang, sang anak terlihat biasa saja sementara orang tuanya terlihat histeris dan bersemangat. Walahh....sebenarnya siapa sih pemenang lombanya J.
Brastagi, kuterpaksa menyalahi janji.
Niat awalnya sih keMedan nggak bakalan jalan – jalan lagi. Selain badan dah capek karena nggak pernah libur di 4 minggu terakhir, bayangan beratnya kerjaan menjadikan semangat jalan – jalan luntur seketika. Tapi semuanya berubah ketika ternyata lomba berjalan sedemikian mulusnya. Tumben kata semua orang seakan tidak percaya, kok tiba – tiba sang klien baik hati sekali hari ini. Yah beruntung juga deh, bisa pulang keJakarta dengan senang gembira nih karena nggak ada komplain kali ini.
Berhubung lomba dah selesai, ya udah siap – siap pulang keJakarta. Tapi kok ya ajakan jalan selalu ada. Tiba – tiba partnership acara lainnya ngajakin jalan keBrastagi. Waa, ajakan yang sangat susah ditolak nih, apalagi dah dua kali keMedan belum pernah sempat keBrastagi. Walaupun kata orang cuman kayak puncak, tapi rasanya penasaran juga kalau belum pernah kesampaian kesana. Ya udah akhirnya rubah tiket pulang kebandara agar bisa ikutan mampir keBrastagi.
Santai...santai dan santai....
Berhubung lomba berjalan lancar sekaligus merupakan event terakhir, akhirnya jalan – jalannya jadi tempat bersantai ria melepaskan diri dari kepenatan kerja. Ya udah keBrastagi menyempatkan berhenti makan jagung rebus sambil menikmati kesejukan senja. Setelah itu lanjut mandi air hangat disumber air panas siDebuk – debuk wuih segarnya badan.
Sehabis menikmati mandi air panas, perutpun minta diisi. Hmm...nikmat juga makan malam dengan menu ikan Nila bakar diBrastagi (jadi lapar dan ngiler lagi nih...). Makan Jagung sudah, mandi air panas juga sudah, menikmati makan malam ala kaki lima dibrastagi pun dilakukan. Ya sudah akhirnya kita memutuskan kembali keMedan dan jalan – jalan pun selesai.
Eits…tunggu dulu kemedan tanpa pesta durian kurang komplitlah rasanya. Akhirnya dalam perjalanan pulang menuju Medan disempatkan juga pesta durian dijalanan. Pantesan durian Medan terkenal banget rasanya, lha pesawat Mandala saja sampai mabuk dan jatuh dibuatnya sampai menewaskan pejabat dan mantan pejabat diSumut. Gimana nggak mabuk wong tuh Mandala makan durian Medannya sampai habis 3 ton. Selain nikmat, durian Medan ternyata lucu bentuknya. Kecil – kecil bulet kayak bukan buah durian saja, malah lebih mirip buah sukun atau sirsak saja.
Pekanbaru – Bukittinggi – Padang, 1 – 3 September 2006
Pekanbaru
Jika bepergian kePekanbaru saat ini kira – kira hal apakah yang akan menyambut kedatangan kita? Gajah Riau? Rasanya nggak mungkin, karena masih jauh dari hutan. Harimau Sumatra? Lebih nggak mungkin lagi deh kayaknya. Bagaimana kalau lagu “Lancing Kuning?” Mungkin juga sih, karena slogan Riau juga “Bumi Lancang Kuning”.
Diluar kemungkinan itu semua, kedatangan anda dibandara Sultan Syarif Kasim II kemungkinan besar akan disambut oleh kabut Asap. Kok kabut Asap? Ya begitulah kondisi Riau saat ini, masalah tahunan berupa kabut asap kembali terjadi. Walaupun tidak separah dua tahun lalu, tapi tetap saja membuat was was mengunjungi Riau. Bagaimana tidak, seminggu sebelum kesana sempat mendapat kabar kalau pesawat kemungkinan tidak dapat mendarat diPekan Baru akibat bandaranya tertutup kabut asap yang cukup parah. Waa, bisa terulang kejadian tahun 2004 tuh kala bandara tertutup kabut asap parah. Ya kalau infonya kita terima sebelum berangkat dari Jakarta. Lha, kalau tahunya setelah dipesawatkan cilaka. Bisa – bisanya terlantar gara – gara mendarat darurat dibandara lain.
Untungnya kemarin lancar – lancar saja, walaupun diudara Pekanbaru tampak tertutup oleh kabut asap. Entahlah walaupun sudah menjadi masalah tahunan, tetap saja masalah kabut asap ini terjadi lagi. Sampai – sampai kita terkenal sebagai Negara pengekspor kabut asap --- oalah kenapa begini ya? Sampai diPekanbaru rasanya tidak ada yang istimewa. Seperti kota – kota kecil lain, Jalan utama diPekanbaru hanya satu, yaitu jalan Sudirman yang membentang dari depan bandara sampai sungai diujungnya. Yang istimewa adalah kondisi kebersihan kotanya. Rasanya lebih bersih jika dibandingkan kota – kota diIndonesia pada umumnya.
DiPekanbarupun rasanya kurang tertarik untuk menjelajahinya. Selain rasanya biasa saja, makanannyapun tidak terlalu khas. Makanan utama didominasi masakan Padang, sementara oleh – olehnya didominasi barang – barang dari Singapura dan Malaysia. Yang menarik justru pemandangan antara Pekanbaru – Bukittinggi, selepas danau buatan sekitar perbatasan Riau – Sumbar, hmmm…sangat menakjubkan.
Bukittinggi
Masuk Bukittinggi dari jalur mana saja rasanya sangat menakjubkan. Masuk dari Padang, Solok, maupun Pekanbaru sama saja indahnya. Masuk Bukittinggi dari Pekanbaru terasa begitu istimewa ketika menjelang memasuki Payakumbuh. Melewati jalanan berkelok dan air terjun (rasanya tidak kalah dengan air terjun Lembah Anai). Misi keBukittinggi kali ini sih sebenarnya cuman memenuhi rasa penasaran pengen lihat Ngarai Sihanouk dan Lobang Jepang, plus trekking dingarai menuju koto Gadang. Selain itu pengen juga lihat benteng Fort DeKock. Maklum waktu kesini pertama belum sempat trekking keKuto Gadang.
Berhubung rencananya sudah jelas akhirnya pagi – pagi habis mandi air dingin langsung saja menuju Ngarai Sihanouk. Masuk ngarai Sihanouk disambut keluarga besar Monyet ekor panjang yang sedang menikmati indahnya pagi dingarai. Dalam perjalanan trekking keKuto Gadang sempat ketemu rombongan anak – anak yang trekking kesana juga. Akhirnya jadi barengan deh trekking dengan anak – anak Bukitinggi. Lumayanlah, daripada bengong seorang diri.
Siang hari perjalanan dilanjutkan kebenteng Fort Dekock yang ternyata pintu masuknya melewati kebun binatang. Sempat heran juga kok dikebun binatang ada bangunan mirip istana Pagaruyung diBatusangkar. Ternyata setelah diperhatikan ternyata bangunan tersebut adalah rumah adat Baanjuang yang sekaligus museum budaya diBukittinggi. Koleksi museum ini ternyata cukup bagus, dari budaya sampai koleksi awetan hewan – hewan anehnya. Jika anda mengunjungi Bukittinggi rasanya rugi kalau tidak mengunjungi museum ini. Dan jika tidak sempat mengunjungi istana Pagaruyung, museum ini sedikit banyak bisa mengobati rasa kekecewaan anda.
Padang
Berhubung sampai diPadang sudah malam hari dan memang tidak ada rencana jalan – jalan disana, begitu nyampe padang langsung saja menuju pasar raya untuk makan dan mencari sekedar oleh – oleh makanan buat temen kantor. Dari sana langsung mencari hotel Tiga – Tiga untuk istirahat semalam sebelum balik keJakarta keesokan harinya.
Summary
Budget :
Pekanbaru – Bukittinggi : by travel lebih direkomendasikan kecuali punya banyak waktu luang naik bis . Ratenya Rp. 75.000 – 95.000. Lama perjalanan sekitar 5 – 6 jam.
Bukittinggi – Padang : by travel juga lebih direkomendasikan, naik dari travel agent depan kantor pos jalan Sudirman BKT. Ratenya 15.000. Lama perjalanan 2 – 3 jam.
Padang – Airport : by Damri Rp. 15.000, by taksi Rp. 85.000 (tawarable). Sekitar ½ jam perjalanan.
Hotel BKT : Hotel Singgalang Indah, jl. A. Yani 130. Rate Rp. 60.000
Hotel Padang : Hotel Tiga – tiga, jl. Veteran 33. Rate Rp. 50.000
Tempat wisata dan belanja oleh – oleh :
Pekanbaru : Pasar wisata / pasar bawah
Bukittinggi : Ngarai Sihanouk, Lobang Jepang, Jam Gadang, Kuto Gadang, Benteng Fort deKock, Rumah adat dan museum Baanjuang. Pasar Atas dan Bawah, Panorama baru.
Padang : Pantai Air manis, Pantai Padang, Musium Adityawarman.
Makassar, 25 - 27 Agustus 2006
Itenerary : 1 day Makassar - Gua Leang - leang - Bantimurung
Kalau mendengar disebutnya kota Makassar, yang terlintas dikepala adalah wisata kuliner dan jajaran perahu Pinisi yang sejak dulu kala telah berhasil menaklukkan ganasnya lautan. Dari aneka masakan sea food yang mengundang selera sampai sekedar menikmati pisang Epe sambil bersantai disenja dan malam hari disekitar pantai Losari. Hemm...tentu nikmat sekali rasanya. Apalagi kali ini berkesempatan mengunjungi Makassar lagi.
Walaupun dalam rangka kerjaan, tentunya tidak boleh melewatkan wisata kuliner. Selain itu ada rencana memanfaatkan sisa hari untuk mengunjungi Benteng Ujung Pandang atau Fort Rotterdam, Air Terjun Bantimurung dan Gua bersejarah taman purbakala Leang - Leang.
Menjelang pendaratan dibandara Hasanuddin Makassar tampak pulau - pulau kecil disekitar selat Makassar. Kalau dilihat dari udara mungkin seperti miniatur Indonesia kali ya, dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau - pulau begitu kata sebuah lagu. Begitu menginjakkan kaki diMakassar dan tiba dihotel, wuih asik juga ternyata dapat jatah hotel Arya Duta (dulunya bernama hotel Sedona) yang terletak persis di tepi pantai Losari. Asik nih bisa melihat pantai losari dari ketinggian hotel
Lebih beruntung lagi, saat ini bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Bahari dan Festival Pemuda dan Olah raga 2006. Deretan kapal penisi tampak berjejer sedang bersandar disepanjang pantai Losari. Asik nih buat bersantai - santai sambil mengisi waktu luang, sambil menanti sunset dipantai losari. Mumpung diMakassar jadi sekalian saja wisata kuliner dan wisata lainnya.
Fort Rotterdam
Benteng Belanda ini sekilas mirip beteng Vredebrug diYogyakarta. Didepan pintu masuk sih yang tertulis dipapan nama adalah benteng Ujung Pandang. Letaknya yang ditepi pantai jadi mudah dijangkau terutama dari pantai Losari. Tinggal lurus saja menyusuri jalan Somba opu - Penghibur - Pasar Ikan. Atau kalau males jalan, naik saja angkot (bahasa lokalnya pete - pete) dari pantai losari.
Memasuki Fort Rotterdam, ada 3 bangunan yang menarik perhatian. Museum La Galigo di sayap kanan dan kiri serta bekas bangunan yang digunakan sebagai tahanan rumah bagi Pangeran Diponegoro. Waktu memasuki musium La Galigo disayap kiri, sempat ragu juga kira - kira apa yang bisa dilihat disana. Ternyata setelah masuk, musiumnya terlihat bagus dan terawat. Koleksinya juga cukup banyak.
Jika musium La Galigo disayap kiri lebih banyak menyimpan koleksi barang - barang bersejarah, dari peninggalan masa prasejarah sampai uang kuno dari jaman Majapahit sampai jaman Jepang., maka musium La Galigo disayap kanan menyimpan koleksi alat alat yang digunakan dalam kehidupan sehari - hari, senjata - senjata dari jaman kerajaan sampai jaman Jepang maupun baju dan peralatan perang.
Dimusium sayap kanan ini dapat dijumpai kapal penisi baik asli maupun replikanya. Begitu melihat koleksi musium ini yang terlintas memang benar nenek moyang kita seorang pelaut. Banyak sekali koleksi kapal dan alat alat untuk menangkap ikan dengan berbagai macam cara. Sayang musium sebagus itu sepi dari pengunjung, padahal kita bisa belajar banyak dan memperoleh pengetahuan yang berharaga dari sana. Dan satu lagi, begitu keluar dari musium kita akan semakin yakin bahwa sebenarnya kita itu bangsa besar yang kaya akan potensi pariwisata, sejarah panjang dan keanekaragaman budaya.
Dipojok sayap kanan bagian depan kita akan menemukan bangunan yang sedikit terpisah. Dibanding sejarah yang disandangnya, secara fisik bangunan tersebut terlihat biasa saja. Jauh dari sejarah yang disandangnya sebagai rumah tahanan bagi Pangeran Diponegoro. Tokoh perlawanan yang ditakuti Belanda, sampai - sampai harus berdamai lerlebih dahulu dengan kaum padri diSumatra Barat agar bisa fokus menangani perlawanan Diponegoro, itupun baru dengan tipu muslihat Belanda bisa menawan Pangeran Diponegoro disini.
Jika anda berkunjung keMakassar sempatkanlah mengunjungi Fort Rotterdam dan jangan lupa masuk kemusium La Galigo. Murah sekali kok jika dibandingkan pengetahuan dan dan saksi sejarah yang anda dapatkan.
|
|